Daftar Isi
- Mengapa Kebutuhan Vaksin Berubah Setelah Usia 50 Tahun?
- Apakah Semua Orang Usia 50 Tahun ke Atas Membutuhkan Vaksin yang Sama?
- Vaksin Apa yang Dapat Dipertimbangkan Setelah Usia 50 Tahun?
- 1. Vaksin Influenza
- 2. Vaksin Herpes Zoster
- 3. Vaksin RSV
- 4. Vaksin Hepatitis A dan Hepatitis B
- 5. Vaksin Pneumokokus
- 6. Vaksin HPV pada Usia Dewasa
- Tidak Ingat Riwayat Vaksin? Apa yang Harus Dilakukan?
- Kalau Jadwal Vaksin Terlambat, Haruskah Mengulang dari Awal?
- Bagaimana Jika Sudah Pernah Terkena Penyakitnya?
- Bagaimana Jika Memiliki Penyakit Kronis?
- Apakah Lansia Boleh Mendapatkan Beberapa Vaksin Sekaligus?
- Apa yang Sebaiknya Disiapkan Sebelum Konsultasi Vaksin?
- Kapan Sebaiknya Mulai Membicarakan Vaksin untuk Lansia?
- Vaksin Lansia Bukan Hanya untuk Orang yang Sedang Sakit
- FAQ Seputar Vaksin untuk Lansia
- Setelah usia 50 tahun, vaksin apa yang perlu dipertimbangkan?
- Apakah semua orang usia 50 tahun harus mendapatkan vaksin tertentu?
- Apakah vaksin herpes zoster perlu setelah usia 50 tahun?
- Apakah vaksin influenza perlu untuk lansia?
- Jika memiliki diabetes atau penyakit jantung, apakah perlu vaksin tertentu?
- Apakah vaksin RSV diperlukan untuk semua orang usia 50 tahun ke atas?
- Bagaimana jika tidak ingat vaksin apa saja yang pernah diterima?
- Kalau pernah terkena herpes zoster, apakah masih perlu mempertimbangkan vaksin?
- Konsultasi Vaksin Dewasa dan Lansia di Solo
Ditinjau oleh: dr. Hana Kristina
Dokter Umum Klinik Cahaya Mitra Solo
Diperbarui: September 2026
Memasuki usia 50 tahun, menjaga kesehatan biasanya mulai mendapat perhatian lebih. Pemeriksaan rutin, pola makan, aktivitas fisik, hingga pengelolaan penyakit kronis menjadi bagian penting dalam menjaga kualitas hidup.
Namun, ada satu hal yang terkadang terlupakan: vaksinasi.
Vaksin ternyata bukan hanya untuk bayi dan anak-anak. Seiring bertambahnya usia, kebutuhan perlindungan terhadap penyakit tertentu juga dapat berubah. Karena itu, imunisasi tetap menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan hingga usia dewasa dan lanjut usia.
Meski demikian, bukan berarti setiap orang yang berusia 50 tahun ke atas membutuhkan vaksin yang sama. Jenis vaksin yang perlu dipertimbangkan dapat berbeda-beda, tergantung pada usia, riwayat vaksinasi sebelumnya, kondisi kesehatan, penyakit kronis, pekerjaan, lingkungan, aktivitas perjalanan, hingga risiko terpapar penyakit tertentu.
WHO juga menekankan pentingnya pendekatan imunisasi sepanjang kehidupan atau life-course immunization, termasuk pada orang dewasa dan kelompok usia lanjut. Di Indonesia, Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 juga mengatur imunisasi berdasarkan siklus hidup hingga kelompok dewasa dan lanjut usia.
“Apa vaksin untuk lansia?”
“Setelah usia 50 tahun, vaksin apa yang perlu saya pertimbangkan sesuai kondisi kesehatan saya?”
Mengapa Kebutuhan Vaksin Berubah Setelah Usia 50 Tahun?
Tubuh mengalami berbagai perubahan seiring bertambahnya usia, termasuk pada sistem kekebalan tubuh.
Di saat yang sama, kemungkinan seseorang memiliki penyakit kronis juga cenderung meningkat. Kondisi seperti diabetes, penyakit jantung, penyakit paru, gangguan ginjal, maupun gangguan sistem kekebalan tubuh dapat memengaruhi risiko seseorang mengalami penyakit atau komplikasi akibat infeksi tertentu.
Inilah sebabnya kebutuhan vaksin pada usia 50 tahun ke atas sebaiknya tidak hanya dilihat sebagai “melanjutkan vaksin masa kecil”. Vaksinasi menjadi bagian dari strategi menjaga kesehatan sesuai tahap kehidupan.
Apakah Semua Orang Usia 50 Tahun ke Atas Membutuhkan Vaksin yang Sama?
Tidak.
Usia memang menjadi salah satu pertimbangan, tetapi bukan satu-satunya. Sebelum menentukan vaksin yang sesuai, dokter atau tenaga kesehatan dapat mempertimbangkan beberapa hal, seperti:
- Riwayat vaksinasi sebelumnya
- Penyakit yang pernah dialami
- Kondisi kesehatan saat ini
- Penyakit kronis yang dimiliki
- Obat-obatan yang sedang digunakan
- Riwayat alergi
- Reaksi setelah vaksin sebelumnya
- Pekerjaan dan risiko paparan
- Lingkungan tempat tinggal
- Rencana perjalanan
Karena itu, dua orang yang sama-sama berusia 50 tahun belum tentu membutuhkan vaksin yang sama. Seseorang yang sehat dan aktif dapat memiliki kebutuhan vaksinasi yang berbeda dengan seseorang yang memiliki diabetes, penyakit jantung, atau gangguan sistem kekebalan tubuh.
Vaksin Apa yang Dapat Dipertimbangkan Setelah Usia 50 Tahun?
Beberapa vaksin yang dapat menjadi bagian dari evaluasi pada kelompok usia dewasa dan lanjut usia antara lain:
1. Vaksin Influenza
Flu sering dianggap sebagai penyakit ringan. Padahal, pada kelompok tertentu, influenza dapat menyebabkan penyakit yang lebih berat. Risiko komplikasi influenza dapat meningkat pada orang lanjut usia maupun orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu.
WHO juga menempatkan kelompok usia lanjut sebagai salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian dalam program vaksinasi influenza. Vaksin influenza dapat diberikan secara berkala sesuai rekomendasi yang berlaku. Namun, kebutuhan dan waktu pemberiannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Baca juga: Vaksin Flu: Siapa Saja yang Perlu Menerimanya Setiap Tahun?
2. Vaksin Herpes Zoster
Pernah mendengar istilah cacar ular?
Herpes zoster terjadi ketika virus varicella zoster, yaitu virus yang juga menyebabkan cacar air, kembali aktif setelah sebelumnya “berdiam” di dalam tubuh. Risiko mengalami herpes zoster meningkat seiring bertambahnya usia dan lebih sering ditemukan pada orang dewasa berusia di atas 50 tahun.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya ruam dan rasa nyeri saat penyakit muncul. Pada sebagian orang, nyeri saraf dapat bertahan bahkan setelah ruam menghilang. Kondisi ini dikenal sebagai postherpetic neuralgia. Karena itu, vaksin herpes zoster dapat menjadi salah satu pilihan pencegahan yang perlu dibicarakan, khususnya pada kelompok usia yang memiliki risiko lebih tinggi.
Baca juga: Vaksin Herpes Zoster di Solo: Perlindungan Penting untuk Usia 50 Tahun ke Atas
3. Vaksin RSV
RSV atau respiratory syncytial virus merupakan virus yang menyerang saluran pernapasan.
Pada sebagian orang, infeksi RSV mungkin menimbulkan gejala ringan. Namun pada kelompok usia lebih tua atau orang dengan penyakit tertentu, infeksi dapat menjadi lebih berat. WHO menyebutkan bahwa beberapa vaksin RSV telah dilisensikan untuk membantu mencegah penyakit RSV berat pada orang lanjut usia maupun orang dewasa dengan kondisi tertentu, termasuk penyakit jantung atau paru.
Namun, bukan berarti semua orang berusia 50 tahun otomatis membutuhkan vaksin RSV. Rekomendasi dapat berbeda tergantung usia, kondisi kesehatan, produk vaksin yang tersedia, dan pedoman yang berlaku.
Baca juga: Vaksin RSV Rekombinan di Solo: Panduan Medis untuk Perlindungan Saluran Pernapasan
4. Vaksin Hepatitis A dan Hepatitis B
Vaksin hepatitis A maupun hepatitis B juga dapat dipertimbangkan pada sebagian orang dewasa. Kebutuhannya tidak semata-mata ditentukan oleh usia. Faktor lain yang dapat dipertimbangkan antara lain:
- Riwayat vaksin sebelumnya
- Risiko paparan
- Pekerjaan
- Kondisi kesehatan
- Aktivitas perjalanan
Jadi, berusia di atas 50 tahun bukan berarti otomatis harus mendapatkan vaksin hepatitis. Jika Anda tidak mengetahui apakah pernah mendapatkan vaksin hepatitis sebelumnya, sampaikan hal tersebut saat berkonsultasi.
Baca juga: Vaksin Hepatitis A dan B di Solo: Perlindungan untuk Kesehatan Keluarga
5. Vaksin Pneumokokus
Pneumokokus dapat menyebabkan berbagai penyakit, termasuk pneumonia dan infeksi serius lainnya. Risikonya dapat meningkat pada usia yang lebih tua maupun pada orang dengan kondisi kesehatan tertentu.
Karena itu, kebutuhan vaksin pneumokokus biasanya dinilai berdasarkan kombinasi antara usia, kondisi kesehatan, riwayat vaksinasi, dan rekomendasi yang berlaku. Jadwal maupun indikasi vaksin dapat berubah mengikuti perkembangan pedoman. Sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu untuk mengetahui apakah vaksin pneumokokus sesuai dengan kondisi Anda.
6. Vaksin HPV pada Usia Dewasa
Vaksin HPV memang lebih sering dibicarakan pada remaja dan dewasa muda. Namun, orang dewasa yang belum pernah menerima vaksin HPV sering bertanya apakah vaksinasi masih mungkin dilakukan.
Jawabannya tidak bisa disamaratakan.
Kebutuhan vaksin HPV pada usia dewasa perlu dipertimbangkan berdasarkan usia, riwayat vaksinasi, kondisi individual, serta rekomendasi yang berlaku.
Jadi, jika belum pernah mendapatkan vaksin HPV, jangan langsung beranggapan bahwa sudah terlambat. Konsultasikan terlebih dahulu untuk mengetahui apakah vaksin HPV masih relevan untuk Anda.
Baca juga: Vaksin HPV di Solo: Manfaat, Jadwal, dan Tempat Vaksinasi
Tidak Ingat Riwayat Vaksin? Apa yang Harus Dilakukan?
Ini merupakan situasi yang cukup sering terjadi.
Setelah puluhan tahun, wajar jika seseorang tidak lagi mengingat vaksin apa saja yang pernah diterima. Buku imunisasi lama mungkin sudah hilang atau bahkan sejak awal tidak pernah tersimpan. Jika memungkinkan, coba cari kembali:
- Sertifikat vaksinasi
- Catatan imunisasi lama
- Rekam medis
- Foto dokumen vaksin
- Informasi dari fasilitas kesehatan sebelumnya
Namun, jika tidak menemukan catatan sama sekali, bukan berarti Anda tidak bisa melakukan evaluasi vaksin. Tetap sampaikan kondisi tersebut kepada tenaga kesehatan.
Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 juga mengatur bahwa jika imunisasi rutin belum diterima secara lengkap, imunisasi kejar atau catch-up immunization dapat dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Kalau Jadwal Vaksin Terlambat, Haruskah Mengulang dari Awal?
Tidak selalu.
Jadwal vaksin yang terlambat tidak otomatis berarti seluruh rangkaian harus dimulai kembali dari dosis pertama. Setiap jenis vaksin memiliki aturan jadwal dan interval dosis yang berbeda. Karena itu, keputusan untuk melanjutkan atau mengatur ulang jadwal sebaiknya tidak dilakukan sendiri.
Bawa catatan vaksin yang masih tersedia saat berkonsultasi. Tenaga kesehatan dapat membantu melihat dosis yang sudah pernah diberikan dan menentukan langkah selanjutnya.
Bagaimana Jika Sudah Pernah Terkena Penyakitnya?
Pernah mengalami suatu penyakit tidak selalu berarti vaksin terhadap penyakit tersebut tidak lagi perlu dipertimbangkan.
Jawabannya sangat bergantung pada jenis penyakit dan vaksinnya.
Sebagai contoh, seseorang yang pernah mengalami herpes zoster masih dapat mendiskusikan vaksin herpes zoster dengan tenaga kesehatan karena pernah mengalami penyakit tersebut tidak otomatis menghilangkan kemungkinan terjadinya episode berikutnya. Karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa vaksin tidak lagi diperlukan hanya karena pernah mengalami penyakitnya.
Bagaimana Jika Memiliki Penyakit Kronis?
Justru sebaiknya kebutuhan vaksin dibicarakan dengan dokter. Penyakit seperti:
- Diabetes
- Penyakit jantung
- Penyakit paru
- Penyakit ginjal
- Gangguan sistem kekebalan tubuh
dapat memengaruhi risiko seseorang mengalami penyakit atau komplikasi akibat infeksi tertentu. Namun, memiliki penyakit kronis juga tidak berarti semua vaksin otomatis harus diberikan.
Jenis vaksin, waktu pemberian, kondisi penyakit, dan obat yang sedang digunakan tetap perlu dinilai secara individual. Karena itu, selalu informasikan kondisi kesehatan dan obat-obatan yang sedang digunakan sebelum vaksinasi.
Apakah Lansia Boleh Mendapatkan Beberapa Vaksin Sekaligus?
Dalam kondisi tertentu, beberapa jenis vaksin dapat diberikan dalam satu kunjungan. Namun, keputusan tersebut bergantung pada jenis vaksin, jadwal, kondisi kesehatan, riwayat imunisasi, serta rekomendasi yang berlaku.
Jika memiliki beberapa kebutuhan vaksin sekaligus, sampaikan seluruhnya saat konsultasi. Dengan begitu, dokter dapat membantu menyusun jadwal vaksinasi yang sesuai tanpa Anda harus menentukan kombinasi vaksin sendiri.
Apa yang Sebaiknya Disiapkan Sebelum Konsultasi Vaksin?
Agar konsultasi lebih mudah, siapkan informasi mengenai:
- Usia
- Riwayat vaksinasi
- Riwayat penyakit
- Penyakit kronis yang dimiliki
- Obat-obatan yang sedang dikonsumsi
- Riwayat alergi
- Reaksi setelah vaksin sebelumnya
- Rencana perjalanan, jika membutuhkan vaksin untuk bepergian
Tidak memiliki semua informasinya? Tidak masalah. Sampaikan saja informasi yang masih Anda ingat. Hal tersebut sudah dapat menjadi titik awal untuk mengevaluasi kebutuhan vaksin.
Kapan Sebaiknya Mulai Membicarakan Vaksin untuk Lansia?
Tidak perlu menunggu hingga benar-benar merasa “sudah lansia”.
Usia 50 tahun dapat menjadi momentum yang baik untuk mulai mengevaluasi kembali kesehatan secara menyeluruh, termasuk status imunisasi. Terutama jika Anda:
- Tidak ingat riwayat vaksin sebelumnya
- Memiliki penyakit kronis
- Mengonsumsi obat tertentu secara rutin
- Sering bepergian
- Memiliki pekerjaan dengan risiko paparan tertentu
- Atau sekadar ingin mengetahui apakah perlindungan vaksin Anda masih sesuai
Dengan membicarakannya lebih awal, kebutuhan vaksin dapat direncanakan berdasarkan kondisi kesehatan, bukan semata-mata angka usia.
Vaksin Lansia Bukan Hanya untuk Orang yang Sedang Sakit
Ada anggapan bahwa vaksin baru diperlukan ketika seseorang sudah sakit atau daya tahan tubuh mulai menurun. Padahal, tujuan utama vaksinasi justru adalah membantu mencegah penyakit sebelum terjadi.
Karena itu, orang dewasa yang merasa sehat pun tetap dapat mengevaluasi kebutuhan vaksinnya. WHO juga menempatkan imunisasi pada orang dewasa sebagai bagian dari healthy ageing atau upaya menjaga kesehatan sepanjang proses penuaan.
FAQ Seputar Vaksin untuk Lansia
Setelah usia 50 tahun, vaksin apa yang perlu dipertimbangkan?
Beberapa vaksin yang dapat menjadi pertimbangan antara lain influenza, herpes zoster, vaksin untuk penyakit saluran pernapasan seperti RSV atau pneumokokus, hepatitis, serta vaksin lainnya sesuai usia, kondisi kesehatan, riwayat vaksinasi, faktor risiko, dan kebutuhan perjalanan.
Apakah semua orang usia 50 tahun harus mendapatkan vaksin tertentu?
Tidak. Usia hanya salah satu pertimbangan. Kebutuhan vaksin setiap orang dapat berbeda.
Apakah vaksin herpes zoster perlu setelah usia 50 tahun?
Risiko herpes zoster meningkat seiring bertambahnya usia. Karena itu, vaksin herpes zoster dapat menjadi salah satu pilihan pencegahan yang perlu dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Apakah vaksin influenza perlu untuk lansia?
Vaksin influenza dapat diberikan secara berkala sesuai rekomendasi yang berlaku. Kelompok usia lanjut termasuk kelompok yang mendapat perhatian dalam pencegahan influenza.
Jika memiliki diabetes atau penyakit jantung, apakah perlu vaksin tertentu?
Penyakit kronis dapat memengaruhi risiko mengalami penyakit berat akibat infeksi tertentu. Namun, jenis vaksin yang dibutuhkan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Apakah vaksin RSV diperlukan untuk semua orang usia 50 tahun ke atas?
Tidak otomatis. Kebutuhan vaksin RSV bergantung pada usia, kondisi kesehatan, produk vaksin yang tersedia, serta rekomendasi yang berlaku.
Bagaimana jika tidak ingat vaksin apa saja yang pernah diterima?
Cari catatan vaksin yang masih tersedia jika memungkinkan dan konsultasikan kepada tenaga kesehatan. Jika imunisasi belum lengkap, dapat dilakukan evaluasi untuk menentukan apakah imunisasi kejar diperlukan.
Kalau pernah terkena herpes zoster, apakah masih perlu mempertimbangkan vaksin?
Bisa jadi. Pernah mengalami herpes zoster tidak otomatis menghilangkan risiko terjadinya episode berikutnya. Konsultasikan dengan tenaga kesehatan untuk mengetahui apakah vaksin sesuai dengan kondisi Anda.
Konsultasi Vaksin Dewasa dan Lansia di Solo
Memasuki usia 50 tahun merupakan waktu yang baik untuk mulai mengevaluasi kesehatan secara lebih menyeluruh.
Bukan hanya tekanan darah, gula darah, atau kolesterol. Riwayat vaksinasi juga layak ikut diperiksa. Tidak semua orang membutuhkan vaksin yang sama. Karena itu, pemilihan vaksin sebaiknya tidak hanya mengikuti daftar di internet atau pengalaman teman dan keluarga.
Yang paling penting adalah mengetahui vaksin apa yang sesuai dengan usia, kondisi kesehatan, riwayat imunisasi, dan kebutuhan Anda sendiri. Klinik Cahaya Mitra Solo menyediakan layanan konsultasi dan vaksinasi untuk membantu pasien mengevaluasi kebutuhan vaksin berdasarkan kondisi masing-masing.
Jika Anda berusia 50 tahun ke atas, tidak yakin dengan riwayat imunisasi, memiliki penyakit kronis, atau ingin mengetahui vaksin apa yang perlu dipertimbangkan, Anda dapat berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga kesehatan.
Hubungi Klinik Cahaya Mitra Solo melalui informasi kontak resmi yang tersedia di website atau Google Business Profile untuk mendapatkan informasi mengenai layanan konsultasi dan vaksinasi.
Catatan Medis
Artikel ini bertujuan sebagai materi edukasi kesehatan dan tidak menggantikan pemeriksaan maupun konsultasi langsung dengan dokter. Rekomendasi vaksin dapat berbeda berdasarkan usia, kondisi kesehatan, riwayat imunisasi, faktor risiko, jenis vaksin, ketersediaan produk, serta pedoman dan kebijakan yang berlaku. Konsultasikan kebutuhan vaksinasi dengan tenaga kesehatan sebelum menentukan jenis maupun jadwal vaksin.









