Hotline 0271732122

Infanrix-IPV+Hib

Indikasi

  • Infanrix-IPV+HIB diindikasikan untuk imunisasi aktif pada anak mulai usia 2 bulan hingga 5 tahun untuk mencegah penyakit difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), poliomyelitis, dan Haemophilus influenzae tipe b (Hib). 
  • Vaksin ini juga diindikasikan sebagai dosis ulangan (booster) bagi anak-anak yang sebelumnya telah diimunisasi dengan antigen DTP, polio, dan Hib.

Jadwal Vaksinasi

  • Dosis Dasar (Primer): Terdiri dari 3 dosis suntikan yang diberikan sejak usia 2 bulan. Jarak waktu minimal yang harus diperhatikan antara dosis yang berurutan adalah 1 bulan. 
  • Dosis Ulangan (Booster): Direkomendasikan untuk diberikan pada tahun kedua kehidupan, dengan jarak waktu minimal 6 bulan setelah jadwal vaksinasi primer selesai. 
  • Cara Pemberian: Vaksin disuntikkan secara intramuskular dalam (ke dalam otot). Lokasi penyuntikan biasanya dilakukan di bagian paha (paha anterolateral). Sangat disarankan agar dosis selanjutnya diberikan pada tempat suntikan yang berbeda (bergantian).

Komposisi Vaksin

  • Setelah dicampur (direkonstitusi), tiap 1 dosis (0,5 mL) mengandung:
    • Zat Aktif:
      • Toksoid difteri: tidak kurang dari 30 IU. 
      • Toksoid tetanus: tidak kurang dari 40 IU. 
      • Antigen Bordetella pertussis: Toksoid pertusis (25 µg), Filamentous haemagglutinin (25 µg), dan Pertactin (8 µg). 
      • Virus Polio inaktif: tipe 1 (40 unit D-antigen), tipe 2 (8 unit D-antigen), dan tipe 3 (32 unit D-antigen). 
      • Polisakarida Haemophilus influenzae tipe b (10 µg) yang dikonjugasikan pada protein pembawa toksoid tetanus (sekitar 25 µg). 
    • Zat Tambahan (Ajuvan & Eksipien): Diadsorpsi pada aluminium hidroksida. Eksipien lainnya meliputi laktosa, natrium klorida, Medium 199 (mengandung asam amino, garam mineral, dan vitamin), serta air untuk injeksi. 
    • Residu/Lainnya: Terdapat sisa pengolahan berupa neomycin sulphate dan polymyxin B sulphate

Efek Samping

  • Kehilangan selera makan
  • Menangis yang tidak biasa
  • Gelisah
  • Mengantuk
  • Demam ≥38oC
  • Reaksi pada area penyuntikan seperti rasa nyeri, kemerahan, dan bengkak.

Kontraindikasi 

  • Anak diketahui memiliki hipersensitivitas (alergi) terhadap komponen vaksin apa pun (termasuk neomycin dan polymyxin), atau sebelumnya pernah menunjukkan tanda hipersensitivitas setelah pemberian vaksin difteri, tetanus, pertusis, polio inaktif, atau Hib. 
  • Jika anak mengalami gangguan sistem saraf dalam waktu 7 hari setelah vaksinasi sebelumnya dengan vaksin pertusis (batuk rejan).
  • Jika anak memiliki infeksi serius dengan suhu tinggi (lebih dari 38oC). Infeksi minor seperti flu seharusnya tidak menjadi masalah.