TETRAXIM diindikasikan untuk pencegahan bersama terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis, dan poliomyelitis.
Vaksin ini digunakan untuk vaksinasi ulangan (booster) pada anak-anak usia 4 sampai 13 tahun, sesuai dengan rekomendasi resmi.
Jadwal Vaksinasi
Dosis & Jadwal: Diberikan sebanyak 1 kali suntikan (dengan dosis 0,5 mL) untuk vaksinasi booster pada anak usia 4 sampai 13 tahun.
Cara Pemberian: Vaksin diberikan melalui rute intramuskular (disuntikkan ke dalam otot).
Lokasi Penyuntikan: Penyuntikan sebaiknya dilakukan pada sisi anterolateral paha untuk bayi, dan pada area otot deltoid (lengan atas) untuk anak usia 4 sampai 13 tahun. Vaksin mutlak tidak boleh disuntikkan ke dalam pembuluh darah (intravaskular) maupun ke dalam kulit (intradermal).
Komposisi Vaksin
Zat Aktif:
Toksoid Difteri: tidak kurang dari 20 IU (30 Lf).
Toksoid Tetanus: tidak kurang dari 40 IU (10 Lf).
Antigen Bordetella pertussis, yang terdiri dari Toksoid Pertusis (25 µg) dan Haemagglutinin Filament (25 µg).
Virus polio inaktif (dilemahkan), yang terdiri dari Tipe 1 Mahoney (29 D unit antigen), Tipe 2 MEF-1 (7 D unit antigen), dan Tipe 3 Saukett (26 D unit antigen).
Adsorben: Diadsorpsi pada aluminium hidroksida yang terhidrasi.
Zat Tambahan (Eksipien): Medium Hanks 199 tanpa fenol merah (campuran asam amino termasuk fenilalanin, garam mineral, vitamin, dan glukosa), asam asetat glasial, natrium hidroksida, formaldehida, fenoksietanol, etanol anhidrat, dan air untuk injeksi.
Keterangan Lain: Vaksin mungkin mengandung sisa (residu) glutaraldehida, neomisin, streptomisin, dan polimiksin B dari proses pembuatannya
Efek Samping
Mudah marah
Reaksi lokal pada tempat penyuntikan seperti kemerahan dan pembengkakan lebih dari 2 cm
Tanda-tanda dan gejala tersebut biasanya terjadi dalam waktu 48 setelah pemberian vaksin dan dapat berlanjut selama 48-72 jam. Gejala akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.
Kontraindikasi
Alergi terhadap salah satu komponen penyusun vaksin, alergi terhadap vaksin pertusis (aselular maupun sel utuh), atau pernah mengalami reaksi alergi setelah injeksi vaksin yang mengandung zat sejenis sebelumnya.
Memiliki riwayat hipersensitif terhadap glutaraldehida, neomisin, streptomisin, atau polimiksin B, karena zat-zat ini digunakan dalam pembuatan vaksin ini.
Sedang menderita ensefalopati berkelanjutan.
Mengalami reaksi parah sehingga mempengaruhi otak (ensefalopati) dalam waktu 7 hari sebelum pemberian dosis vaksin pertussis (aselular atau pertussis sel keseluruhan)
Sedang mengalami demam atau penyakit akut yang muncul tiba-tiba (pada kondisi ini vaksinasi harus ditunda hingga sembuh).