Hotline 0271732122

Tetraxim

Indikasi

  • TETRAXIM diindikasikan untuk pencegahan bersama terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis, dan poliomyelitis.
  • Vaksin ini digunakan untuk vaksinasi ulangan (booster) pada anak-anak usia 4 sampai 13 tahun, sesuai dengan rekomendasi resmi.

Jadwal Vaksinasi

  • Dosis & Jadwal: Diberikan sebanyak 1 kali suntikan (dengan dosis 0,5 mL) untuk vaksinasi booster pada anak usia 4 sampai 13 tahun.
  • Cara Pemberian: Vaksin diberikan melalui rute intramuskular (disuntikkan ke dalam otot).
  • Lokasi Penyuntikan: Penyuntikan sebaiknya dilakukan pada sisi anterolateral paha untuk bayi, dan pada area otot deltoid (lengan atas) untuk anak usia 4 sampai 13 tahun. Vaksin mutlak tidak boleh disuntikkan ke dalam pembuluh darah (intravaskular) maupun ke dalam kulit (intradermal).

Komposisi Vaksin

  • Zat Aktif:
    • Toksoid Difteri: tidak kurang dari 20 IU (30 Lf).
    • Toksoid Tetanus: tidak kurang dari 40 IU (10 Lf).
    • Antigen Bordetella pertussis, yang terdiri dari Toksoid Pertusis (25 µg) dan Haemagglutinin Filament (25 µg).
    • Virus polio inaktif (dilemahkan), yang terdiri dari Tipe 1 Mahoney (29 D unit antigen), Tipe 2 MEF-1 (7 D unit antigen), dan Tipe 3 Saukett (26 D unit antigen).
  • Adsorben: Diadsorpsi pada aluminium hidroksida yang terhidrasi.
  • Zat Tambahan (Eksipien): Medium Hanks 199 tanpa fenol merah (campuran asam amino termasuk fenilalanin, garam mineral, vitamin, dan glukosa), asam asetat glasial, natrium hidroksida, formaldehida, fenoksietanol, etanol anhidrat, dan air untuk injeksi.
  • Keterangan Lain: Vaksin mungkin mengandung sisa (residu) glutaraldehida, neomisin, streptomisin, dan polimiksin B dari proses pembuatannya

Efek Samping

  • Mudah marah
  • Reaksi lokal pada tempat penyuntikan seperti kemerahan dan pembengkakan lebih dari 2 cm
  • Tanda-tanda dan gejala tersebut biasanya terjadi dalam waktu 48 setelah pemberian vaksin dan dapat berlanjut selama 48-72 jam. Gejala akan hilang dengan sendirinya tanpa pengobatan.

Kontraindikasi 

  • Alergi terhadap salah satu komponen penyusun vaksin, alergi terhadap vaksin pertusis (aselular maupun sel utuh), atau pernah mengalami reaksi alergi setelah injeksi vaksin yang mengandung zat sejenis sebelumnya.
  • Memiliki riwayat hipersensitif terhadap glutaraldehida, neomisin, streptomisin, atau polimiksin B, karena zat-zat ini digunakan dalam pembuatan vaksin ini.
  • Sedang menderita ensefalopati berkelanjutan.
  • Mengalami reaksi parah sehingga mempengaruhi otak (ensefalopati) dalam waktu 7 hari sebelum pemberian dosis vaksin pertussis (aselular atau pertussis sel keseluruhan)
  • Sedang mengalami demam atau penyakit akut yang muncul tiba-tiba (pada kondisi ini vaksinasi harus ditunda hingga sembuh).