Hotline 0271732122

Infanrix Hexa

Indikasi

Infanrix Hexa diindikasikan untuk vaksinasi primer pada bayi dan vaksinasi ulangan (booster) pada balita guna mencegah penyakit difteri, tetanus, pertusis (batuk rejan), hepatitis B, poliomyelitis (polio), dan Haemophilus influenzae tipe b (Hib).

Jadwal Vaksinasi

  • Dosis & Metode Pemberian: Vaksin diberikan dalam dosis 0,5 mL melalui injeksi intramuskular (suntikan dalam ke otot). 
  • Vaksinasi Primer: Terdiri dari 2 atau 3 dosis suntikan, di mana jarak/interval antara setiap dosis primer harus minimal 1 bulan. 
  • Vaksinasi Ulangan (Booster):
    • Jika jadwal primer 3 dosis (pada bayi cukup bulan maupun prematur), dosis booster dapat/harus diberikan setidaknya 6 bulan setelah dosis primer terakhir (sebaiknya sebelum usia 18 bulan). 
    • Jika jadwal primer 2 dosis, dosis booster wajib diberikan setidaknya 6 bulan setelah dosis primer terakhir (sebaiknya antara usia 11 dan 13 bulan). 

Komposisi Vaksin

  • Setelah dicampur (direkonstitusi), tiap 1 dosis (0,5 mL) mengandung:
    • Zat Aktif:
      • Toksoid difteri: tidak kurang dari 30 IU. 
      • Toksoid tetanus: tidak kurang dari 40 IU. 
      • Antigen Bordetella pertussis: Toksoid pertusis (25 µg), Filamentous haemagglutinin (25 µg), dan Pertactin (8 µg). 
      • Antigen permukaan Hepatitis B (10 µg). 
      • Virus polio inaktif: tipe 1 (40 unit D-antigen), tipe 2 (8 unit D-antigen), dan tipe 3 (32 unit D-antigen). 
      • Polisakarida Haemophilus influenzae tipe b (10 µg) yang dikonjugasikan pada protein pembawa toksoid tetanus (sekitar 25 µg).
  • Adsorben: Diadsorpsi pada aluminium hidroksida hidrat sebanyak 0,5 mg Al3+ dan aluminium fosfat sebanyak 0,32 mg Al3+
  • Zat Tambahan (Eksipien): Laktosa (pada serbuk Hib), natrium klorida, Medium 199 (mengandung asam amino, garam mineral, vitamin), dan air untuk injeksi. 
  • Residu & Keterangan Lain: Terdapat residu neomycin sulphate dan polymyxin B sulphate dari proses produksi.

Efek Samping

  • Kehilangan selera makan
  • Menangis yang tidak biasa
  • Rewel atau gelisah
  • Nyeri/kemerahan/bengkak pada tempat penyuntikan
  • Demam ≥ 38oC
  • Mengantuk.

Kontraindikasi   

  • Memiliki alergi (hipersensitif) terhadap bahan aktif, zat tambahan (eksipien) yang terkandung di dalam vaksin, maupun residu seperti neomisin dan polimiksin. 
  • Pernah memiliki reaksi hipersensitivitas setelah menerima pemberian vaksin difteri, tetanus, pertusis, hepatitis B, polio, atau Hib sebelumnya. 
  • Pernah mengalami gangguan sistem saraf dalam rentang waktu 7 hari setelah menerima vaksinasi sebelumnya yang mengandung pertusis.