Hotline 0271732122

Boostrix

Indikasi

  • Boostrix diindikasikan untuk vaksinasi booster (ulangan) terhadap penyakit difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan) pada individu mulai dari usia empat tahun ke atas.
  • Vaksin ini juga diindikasikan untuk memberikan perlindungan pasif terhadap pertusis pada bayi di masa awal kehidupannya, yang diperoleh melalui imunisasi pada ibu selama masa kehamilan.

Jadwal Vaksinasi

  • Dosis: Direkomendasikan sebagai dosis tunggal sebanyak 0,5 mL. 
  • Pemberian pada Ibu Hamil: Vaksin ini dapat diberikan kepada wanita hamil antara minggu ke-27 hingga ke-36 masa kehamilan, sesuai dengan rekomendasi resmi. 
  • Vaksinasi Ulang: Vaksinasi ulang untuk difteri, tetanus, dan pertusis sebaiknya dilakukan dengan interval waktu sesuai rekomendasi resmi (umumnya setiap 10 tahun).
  • Cara Pemberian: Vaksin disuntikkan secara intramuskular dalam (ke dalam otot), dan lebih disarankan disuntikkan di area deltoid (lengan atas). Vaksin mutlak tidak boleh diberikan melalui pembuluh darah vena (intravena).

Komposisi Vaksin

  • Tiap 1 dosis (0,5 mL) vaksin mengandung:
    • Zat Aktif: Diphtheria toxoid (tidak kurang dari 2 IU atau 2,5 Lf), Tetanus toxoid (tidak kurang dari 20 IU atau 5 Lf), serta antigen Bordetella pertussis yang terdiri dari Pertussis toxoid (8 µg), Filamentous haemagglutinin (8 µg), dan Pertactin (2,5 µg). 
    • Ajuvan (Zat Adsorben): Aluminium hidroksida terhidrasi (0,3 mg Al3+) dan aluminium fosfat (0,2 mg Al3+)  
    • Bahan Lainnya: Sodium chloride (natrium klorida) dan water for injections (air untuk injeksi).

Efek Samping

  • Pada anak-anak usia 4-9 tahun: Rewel, mengantuk, bengkak, nyeri, kemerahan pada tempat penyuntikan, dan kelelahan.
  • Pada dewasa, remaja, dan anak 10 tahun ke atas: Sakit kepala, bengkak, nyeri, kemerahan pada tempat penyuntikan, kelelahan, dan merasa tidak enak badan.

Kontraindikasi 

  • Alergi (hipersensitif) terhadap Boostrix atau bahan apa pun yang terkandung di dalam vaksin ini. 
  • Sebelumnya pernah memiliki riwayat reaksi alergi terhadap vaksin difteri, tetanus, atau pertusis. 
  • Pernah mengalami gangguan sistem saraf (ensefalopati) yang penyebabnya tidak diketahui, dalam waktu 7 hari setelah vaksinasi sebelumnya dengan vaksin yang mengandung pertusis. 
  • Pernah mengalami penurunan jumlah trombosit sementara (yang meningkatkan risiko perdarahan) atau komplikasi gangguan pada otak/saraf setelah vaksinasi difteri dan/atau tetanus sebelumnya.