Boostrix diindikasikan untuk vaksinasi booster (ulangan) terhadap penyakit difteri, tetanus, dan pertusis (batuk rejan) pada individu mulai dari usia empat tahun ke atas.
Vaksin ini juga diindikasikan untuk memberikan perlindungan pasif terhadap pertusis pada bayi di masa awal kehidupannya, yang diperoleh melalui imunisasi pada ibu selama masa kehamilan.
Jadwal Vaksinasi
Dosis: Direkomendasikan sebagai dosis tunggal sebanyak 0,5 mL.
Pemberian pada Ibu Hamil: Vaksin ini dapat diberikan kepada wanita hamil antara minggu ke-27 hingga ke-36 masa kehamilan, sesuai dengan rekomendasi resmi.
Vaksinasi Ulang: Vaksinasi ulang untuk difteri, tetanus, dan pertusis sebaiknya dilakukan dengan interval waktu sesuai rekomendasi resmi (umumnya setiap 10 tahun).
Cara Pemberian: Vaksin disuntikkan secara intramuskular dalam (ke dalam otot), dan lebih disarankan disuntikkan di area deltoid (lengan atas). Vaksin mutlak tidak boleh diberikan melalui pembuluh darah vena (intravena).
Komposisi Vaksin
Tiap 1 dosis (0,5 mL) vaksin mengandung:
Zat Aktif:Diphtheria toxoid (tidak kurang dari 2 IU atau 2,5 Lf), Tetanus toxoid (tidak kurang dari 20 IU atau 5 Lf), serta antigen Bordetella pertussis yang terdiri dari Pertussis toxoid (8 µg), Filamentous haemagglutinin (8 µg), dan Pertactin (2,5 µg).
Bahan Lainnya:Sodium chloride (natrium klorida) dan water for injections (air untuk injeksi).
Efek Samping
Pada anak-anak usia 4-9 tahun: Rewel, mengantuk, bengkak, nyeri, kemerahan pada tempat penyuntikan, dan kelelahan.
Pada dewasa, remaja, dan anak 10 tahun ke atas: Sakit kepala, bengkak, nyeri, kemerahan pada tempat penyuntikan, kelelahan, dan merasa tidak enak badan.
Kontraindikasi
Alergi (hipersensitif) terhadap Boostrix atau bahan apa pun yang terkandung di dalam vaksin ini.
Sebelumnya pernah memiliki riwayat reaksi alergi terhadap vaksin difteri, tetanus, atau pertusis.
Pernah mengalami gangguan sistem saraf (ensefalopati) yang penyebabnya tidak diketahui, dalam waktu 7 hari setelah vaksinasi sebelumnya dengan vaksin yang mengandung pertusis.
Pernah mengalami penurunan jumlah trombosit sementara (yang meningkatkan risiko perdarahan) atau komplikasi gangguan pada otak/saraf setelah vaksinasi difteri dan/atau tetanus sebelumnya.